Kebaikan dibalas Kebaikan
Era telah berubah, diikuti oleh ribuan perkembangan baik alami maupun campur tangan manusia. Masyarakat yang awalnya merupakan suatu kesatuan, kini menjadi sosok yang cenderung berdiri masing-masing. Perlahan namun pasti, gotong royong yang biasa dilakukan oleh manusia kini mulai memudar. Pandangan ini bisa kita temui setiap hari. Tidak perlu jauh-jauh, di sekeliling kita banyak terjadi hal-hal tidak mengenakan akibat kurangnya rasa bersatu dan empati. Namun, apakah empati datang begitu saja? Empati bukanlah sesuatu yang dapat dirasakan begitu saja. Rasa ini membutuhkan pupuk awal yang sangat baik. Terdapat tiga faktor penting yang dapat membangun rasa empati.
Keluarga merupakan salah satu
dari dua faktor yang akan dijelaskan. Keluarga merupakan contoh awal kita
mengenal apa itu kehidupan. Dari keluarga kita belajar banyak hal. Kita belajar
tentang cara berinteraksi, tata krama, berkawan serta penerapan awal dari
norma-norma agama dan sosial. Kita pun diajarkan mengenai kebaikan dan
kepatuhan dengan ajaran agama serta implementasi terhadap orang-orang di dalam
keluarga. Sejak kecil, keluarga (idealnya) menuntun kita menjadi manusia yang
baik. Kita masih mengikuti pandangan serta perilaku dari orang-orang di rumah.
Kita belajar membenci, belajar mencintai, belajar tentang segala bentuk
perasaan dari sebuah keluarga.
Keluarga adalah panutan pertama
kita di dunia. Disini kita belajar bahwa manusia tidak bisa hidup dengan
sendirinya. Manusia pasti membutuhkan manusia lain dan siklus ini akan terus
bertahan hingga akhir hayat. Ayah, ibu, saudara-saudara dan lingkup keluarga
yang lebih besar akan mencerminkan diri kita dihadapan masyarakat, terutama
teman-teman kita. Kebaikan demi kebaikan yang keluarga pernah lakukan dihadapan
kita akan menjadi contoh utama yang akan kita lakukan di kemudian hari.
Selain keluarga, lingkungan
adalah faktor kedua yang memengaruhi rasa empati kita. Seseorang yang tinggal di
lingkungan yang cenderung individualis dan mandiri menjadikan seseorang
kesulitan untuk meminta bantuan. Ada rasa sungkan yang tumbuh dalam diri karena
melihat sekitar yang mandiri dan cuek. Selain itu, akan timbul perasaan curiga
antarsesama bila ada seseorang yang menawarkan diri untuk membantu. Perasaan
tidak nyaman itu membuat kita, bahkan orang lain pun, merasakan tekanan dalam
masing-masing individu. Padahal jika seseorang tinggal di lingkungan yang
suportif dan senang gotong royong, empati sendiri akan tumbuh dengan
sendirinya. Empati tidak akan dipandang sebagai sesuatu yang ‘aneh’ dan menarik
perhatian seseorang. Kebaikan akan dipandang sebagai suatu keharusan dan
kewajiban kita sebagai manusia untuk membantu sesama.
Belakangan ini, pandemi memengaruhi
kehidupan sebagian banyak masyarakat dunia. Di antara mereka ada yang
kehilangan pekerjaan ataupun turunnya pendapatan. Akan tetapi, urgensi untuk
memenuhi kebutuhan diri dan keluarga semakin genting. Disini, rasa kemanusiaan
diuji. Perasaan empati yang dipupuk sejak dulu hingga dewasa menjadi kunci
penting untuk melewati masa pandemi dengan sebaik-baiknya. Orang-orang yang
memiliki kemampuan untuk melakukan bantuan sosial diharapkan dapat meringankan
beban mereka yang kesulitan. Hari ini, saya mencoba untuk mengimplementasikan
kewajiban saya sebagai seseorang yang memiliki perasaan empati.
Bantuan yang datang dari kerja
keras selama sebelas hari dibayar dengan senyuman bapak Saeful, seorang ayah
dengan tiga orang anak dan bekerja sebagai pedagang buah. Setiap harinya beliau
menjajakan dagangannya tepat di depan perum dimana aku tinggal. Pria kelahiran
tahun 1953 ini mendorong gerobak dagangannya dari rumah ke tempat jualannya
yang berjarak 2 kilometer dengan harapan bahwa setiap hari akan menjadi hari
yang lebih baik. Sering kali saya melihat bapak ini melafalkan ayat-ayat suci
sembari menunggu pelanggan datang membeli. Hal ini membuat kesan yang sangat
berbeda, terutama untuk saya.
Kenyataan bahwa dunia tengah
diuji oleh tuhan pun membuat hari-hari yang dilalui bapak Saeful tidak selalu
baik-baik saja. Di tengah pandemi ini pun, beliau tetap berjuang untuk
menghidupi keluarganya. Omset yang selama ini dapat memenuhi keluarganya kini
bersisa dengan secukupnya. Wajah yang tersenyum itu menyimpan perasaan linglung
karena ada keluarga yang harus dibiayai olehnya. Bapak menyimpan perasaannya hanya
untuk istrinya, beliau takut jika masalah yang dihadapinya kini membuat
anak-anaknya kesusahan. Mereka kini hidup dengan kesulitan, bantuan yang
pas-pasan dari pemerintah. Saat ku tanya apa yang beliau lakukan untuk menutupi
itu semua, beliau menjawab, “semua akan selesai bila orang sekitar kita saling
tolong menolong dan bersyukur dengan nikmat yang diberikan oleh tuhan.”
Tidak ada ketakutan dalam suara
bapak Saeful. Beliau yakin bahwa apa yang tengah dilalui ini adalah ujian bagi manusia
untuk kembali bersatu, gotong royong. Perasaan empati yang sempat ditinggalkan,
kini kembali muncul dan bersuara lantang. Pemerintah, organisasi, hingga individu-individu
menjadi tombak untuk menghadapi pandemi. “Kebaikan akan dibalas dengan
kebaikan,” ucap bapak Saeful mengingatkan. Tidak ada kebaikan yang sia-sia. Tidak
ada perasaan empati yang sia-sia. Bilamana perasaan itu disia-siakan, maka akan
dibalas dengan keburukan yang setimpal. Sebuah hukum yang berlaku di dunia,
dimana ketakutan orang-orang individualis yang tidak mendasar bisa menghilang.
Bantuan yang kuberikan tidaklah
seberapa, namun perasaan hangat itu datang tanpa permisi. Seolah sebuah
kebaikan yang tersalurkan menjadi sebuah candu untuk terus berbagi. Perasaan itu,
perasaan empati yang tersalurkan, adalah sesuatu yang berharga dan patut untuk
dipertahankan. Aku sendiri percaya bahwa ada rezeki orang lain dalam rezeki
kita. Manusia pasti membutuhkan manusia lainnya, tidak ada manusia yang bisa
berdiri dengan sendirinya.
Memang benar hidup hanya sekali. Di
dunia yang kita hirup udaranya berulang kali, kita belajar bahwa menjadi
manusia sesungguhnya adalah saat kita memanusiakan orang lain. Kebaikan mengajarkan
kebaikan lainnya. Kotornya hidup akan lumpuh bila kebaikan itu menjadi suatu rezim
yang menarik hati. Peristiwa apapun, bahkan pandemi, bukan hanya sebuah
peringatan dari tuhan namun sebuah kemurahan hati dari tuhan bagi siapa pun
yang memiliki jiwa yang besar untuk berbagi. Mungkin dari pandemi ini kita
belajar bahwa berbagi kebaikan adalah salah satu cara kita untuk meraih
kebahagiaan, mungkin bisa menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu.
Wisata tahun 2020 akan diakhiri dengan
kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Mungkin langkah yang kita lewati hanya
satu uluran tangan. Namun kita tidak akan pernah tahu bahwa di samping kita terdapat
ribuan tangan yang bisa membuat kedua sudut bibir kita tertarik. Mereka yang bertahan karena kita dan kita
yang bertahan karena mereka adalah dua simbol kebaikan yang berarti. Kerja sama
dan gotong royong yang dulu hilang kini hinggap kembali. Seperti yang sering
digambarkan di buku Pengetahuan Kewarganegaraan saat SD dulu, masyarakat yang
bergotongroyong memiliki senyuman yang bisa diingat sampai sekarang. Itu barulah
sebuah gambar, lalu bagaimana dengan kenyataan? Tentu akan diingat oleh mereka
dan kita. Mari kita tutup akhir dari wisata panjang ini dengan kebaikan dan
kembali dengan buah tangan yang kita petik dari kebaikan yang kita tanam.

Komentar
Posting Komentar